GAYA HIDUP HEDONIS

RUANG TAMU ISI SURVEY CITRA DIRI CINTA  PACARAN dan PERTUNANGAN FRAGMENTASI TAK TAHU MALU DEKADENSI MORAL GAYA HIDUP HEDONIS GEJALA PENGGUNA NARKOBA CIRI ABG YANG HUB SEKS PRA-NIKAH FUNGSI SEKS ORIENTASI DAN DISORIENTASI KERJA - PEKERJAAN ALBUM LUCU



Jauh sebelum abad pertama Masehi, di tengah-tengah masyarakat, sesuai dengan sikon masanya, telah ada gaya hidup hedonis. Hedonis kemudian menjadi hedonisme [Yunani, hedone artinya kesenangan, kenikmatan, bersenang-senang], merupakan gaya hidup yang mengutamakan dan mengagungkan kesenangan serta kenikmatan. Pada sikon itu, manusia, setelah memenuhi kebutuhannya, berupaya untuk memuaskan hampir semua keinginannya. Dan bisa saja, keinginan-keinginan itu tidak begitu penting, tetapi hanya merupakan suatu prestise, kebanggaan serta kecongkakan.

  

1333191364359804829

Di masa lalu, misalnya pada masyarakat Hellenis, tampilan gaya hidup hedonis berupa pengumpulan kekayaan; berkumpul di dan dalam theater [colleseum] sambil menonton opera; hura-hura pada arena pertarungan antara manusia-manusia dan manusia-binatang buas; perjudian, pesta pora [termasuk pesta seks dan penyimpangan seksual]. Bahkan, para kaisar, pada masa lalu, menjadikan perang dan darah sebagai salah satu sumber kesenangan.

Oleh sebab itu, mereka selalu melakukan pengerahan sejumlah tentara untuk ekspansi kekuasaan sekaligus mendapat kepuasaan batin, ketika melihat darah tercurah akibat tusukan pedang dan tombak. Gaya hidup hedonis yang dilakukan para kaisar, kaum bangsawan, orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan kedudukan, serta masyarakat kaya biasanya menjadikan orang lain sebagai korban; korban mereka adalah para budak laki-laki dan perempuan serta tawanan perang.

Pada konteks kekinian, ada banyak faktor mendorong gaya hidup hedonis; misalnya akibat mudahnya arus informasi dan komunikasi karena kemajuan tekhnologi informasi [TI]. Dan seringkali informasi yang mencapai [yang masuk ke dalam] suatu komunitas masyarakat, diterima apa adanya; kemudian dipakai sebagai bagian dari gaya hidup. Sikon seperti itu, juga terjadi pada masyarakat dan bangsa Indonesia. 

Ada banyak orang Indonesia [terutama di kota-kota metropolitan] berhasil menguasai teknologi informasi. Kemudahan seseorang mendengar, membaca, dan melihat berbagai informasi dan gaya hidup dari luar [terutama dari dunia barat], dan terjerumus ke dalamnya. Sehingga mereka dipengaruhi dan terpengaruh, meniru serta mempraktekkannya pada konteks hidup dan kehidupannya. Walaupun, seringkali apa yang ditiru dan dipraktekan tersebut tidak sesuai dengan sikon sosial-budaya setempat atau lokal.

Dan pada umumnya, yang paling mudah ditiru adalah gaya hidup. Sehingga, mudah dipahami bahwa ada masyarakat [terutama kaum muda] Indonesia, bergaya hidup orang Amerika dan Eropah atau bahkan melebihi masyarakat maju lainnya yang bersifat hedonis. Unsur-unsur gaya hidup hedonis, seperti pesta pora, kemabukan, pesta seks [dan penyimpangan seksual], perjudian, tampilan diri memamerkan kemewaan, dan lain sebagainya, seakan menjadi sesuatu yang wajar dan normal. 

Dalam kerangka gaya hidup dan kehidupan seperti itu, kemudian muncul istilah-istilah baru namun sangat bersahabat dan populer, misalnya, dugem, clubers, teman tapi mesra, metro-seksual, sex after lunch, sex without love, dan lain-lain sebagainya; semuanya sebagai gaya hidup yang menyenangkan serta merupakan suatu keharusan kekinian bagi masyarakat maju. 

Namun, pada satu sisi, banyak orang menilai bahwa gaya hidup dan kehidupan hedonis, pada dasarnya, merupakan penyakit sosial. Dengan itu, maka orang-orang yang bergaya hidup hedonis perlu ditherapi agar kembali menjadi normal. Penyakit yang muncul karena manusia telah kehilangan orientasi kemanusiaan serta kepekaan pada sikon sosial-kultural-masyarakat di sekitarnya masih bergemilang kemiskinan dan kebodohan. Dan mungkin, kaum agamawan [dan agama-agama] mempunyai pemikiran yang sama. Atau sebaliknya, kaum agawan juga terjebak dan terjerumus ke dalam lubang gaya hidup hedonis, sehingga ajaran-ajaran agama yang dianutnya hanya merupakan bentuk-bentuk keagamaan semu; mereka hanya sekedar beragama atau tanpa penghayatan yang benar. 

Di sisi lain, orang-orang yang memperlihatkan atau mempraktekkan gaya hidup dan kehidupan hedonis, berpendapat bahwa apa yang mereka lakukan tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan merupakan urusan pribadi; berada pada wilayah private seseorang; jadi tidak perlu diperdebatkan. Semua yang mereka lakukan itu, karena mempunyai kelebihan dari orang lain. Dan dengan kebihan tersebut, mereka [ia] harus mendapat kesenangan, kenikmatan, serta gemerlapan, yang penting tidak merugikan serta mengganggu orang lain. Bagi mereka hidup untuk dan harus dinikmati semaksimal dan sebaik-baik mungkin; karena hanya ada satu kesempatan untuk itu; hanya ada satu kesempatan untuk mengisinya dengan segala bentuk kesenangan. Menikmati gaya hidup dan kehidupan seperti itu, merupakan salah satu upaya melepaskan kelelahan setelah bekerja. 

Meniru dan mempraktekkan gaya hidup dan kehidupan hedonis, sudah merambah kepelbagai lapisan masyarakat; seakan sudah merupakan suatu tuntutan keadaan, serta keharusan menjadi bagian darinya. Akibatnya, banyak orang berusaha [bekerja] keras agar mampu membiayai tuntutan-tuntutan gaya hidup dan kehidupannya. Di samping itu, karena gaya hidupnya, banyak orang melupakan kebutuhan spiritualnya, yang hanya bisa diisi oleh Agama.
 
 
 

Oleh Jappy Pellokila.

 
 
 1326586905855771606
flowers-day-desi-glitters-1